Sains dan Teknologi | 10.03.2008
Green IT CeBIT 2008: Kampanye Perlindungan Lingkungan
Berinteraksi dengan komputer sudah menjadi bagian dari gaya hidup dan bahkan kebutuhan. Seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam, entah untuk bekerja, berkomunikasi, bermain, berselancar di internet atau aktivitas lainnya. Tapi giliran membayar tagihan listrik yang tinggi, terkadang begitu menyebalkan. Padahal banyak cara sudah dilakukan, misalnya dengan memasang posisi stand by atau mengistirahatkan layar monitor dengan screen saver ketika sesaat kita tinggal untuk kemudian digunakan kembali. Tapi ketika Anda mulai menggerakkan mouse atau penggerak cursor di monitor kembali, maka energi yang ditarik masih menyedot listrik.
Dalam pameran teknologi informatika dan telekomunikasi internasional CeBIT, Fujitsu Siemens tampil dengan gebrakan monitor Zero Watt yang mematikan penyedotan energi ketika monitor Anda dalam status stand by. Musim panas ini, monitor hemat energi itu akan diluncurkan, seharga kurang lebih empat juta Rupiah. Inilah salah satu produk teknologi yang berpartisipasi dengan kampanye Green IT atau teknologi hijau. Tak hanya menjaga agar kantong Anda tidak bobol untuk bayar listrik, tapi juga ramah lingkungan. Manajer Marketing Fujitsu Siemens, Omur Canaltay memeragakan Zero Watt Monitor dari Fujitsu Siemens, yang menjadi pionir layar komputer hemat energi dalam posisi stand by.
"Ini merupakan yang pertama di dunia. Seperti yang kita tahu, setiap layar monitor bila tidak digunakan, maka akan terlihat mati secara otomatis ketika didiamkan sekitar dua puluh menit. Ini tidak benar-benar mati melainkan dalam status istirahat atau sleep mode. Ketika mulai digerakkan kembali maka akan menyedot energi untuk memproses sinyal atau menggerakan mouse atau komputer, paling tidak satu hingga lima watt. Sekitar sepuluh tahun lalu, monitor dalam posisi stand by masih menghabiskan energi sekitar 30 watt. Maka bila menggunakan layar Zero Watt Monitor atau monitor nol watt ini, maka akan menghemat energi."
Omur Canaltay menjelaskan, Fujitsu ikut mendukung program teknologi hijau jauh hari sebelum kampanya perlindungan iklim marak.
"Keterlibatan kami bukan hanya sekedar mendukung pengembangan teknologi ramah lingkungan. Tetapi dapat dibilang kami juga berada di posisi terdepan dalam keseluruhan konsep teknologi hijau. Teknologi ramah lingkungan berpengaruh besar bagi masyarakat, ini menjadi bagian dari proses pendidikan cinta lingkungan bagi masyarakat.Bagi kami ini merupakan usaha atau kemampuan kami dalam memproduksi teknologi hijau, sekaligus membantu memelihara lingkungan lewat efisiensi energi dan proses daur ulang. Pada akhirnya, produk yang kami hasilkan dari pabrik-pabrik kami kami sangat efisien, sehingga energi yang dibutuhkan untuk perangkat komputer kami jauh lebih rendah dari tahun-tahun lalu maupun dari pesaing kami."
Teknologi yang ramah lingkungan. Inilah tema besar yang diusung oleh Pameran Teknologi Informasi dan Telekomunikasi Internasional CeBIT 2008 di Hannover, Jerman. Berbagai produk teknologi berlomba untuk menggulirkan produk-produk yang hemat energi.
Disain unik, yang menjadi daya tarik, tak lagi cukup. Untuk itu ASUS misalnya menampilkan produk laptopnya yang dikemas dengan bahan bambu, sebagai dukungan terhadap teknologi hijau. Direktur ASUS, Jery Shen memamerkan: "Kami juga menggunakan dekorasi bambu untuk laptop ASUS bamboo. Bambu itu sangat ramah lingkungan.“ Selan Fujitsu Siemens dan ASUS, perusahaan Sony, Panasonic, SAS Deutschland, Microsoft, TomTom, Intel dan lain-lain, ikut memberikan penawaran serupa. Model-model mesin pencetak atau printer yang ditawarkan Canon misalnya, Pixma MX850 All in One, yang memungkinkan menyalin atau meng-scan dua sisi kertas sekaligus secara otomatis, atau men-scan sekaligus mencetak kertas bersamaan, sehingga tidak membuang waktu, bisa jadi pilihan. Atau printer Prinstik, dari Planon, sebuah printer mobile alias mudah dijinjing ke mana-mana, yang dapat mencetak langsung dari perangkat bluetooth, telefon atau PDA. Mega trend teknologi hijau yang kini marak mau tak mau harus diikuti, bila tak ingin ketinggalan kereta dalam kemajuan teknologi. Kampanye perlindungan iklim yang terus bergulir perlahan membangun kesadaran masyarakat, bahwa sistem informatika dan telekomunikasi di dunia telah menyebabkan pelepasan dua persen emisi karbondioksida ke atmosfir. Kesadaran itu ada, namun informasi terkadang kurang jelas. Seperti diungkapkan Mathilda Güsweith, seorang pengunjung pameran, yang mengaku tak mengerti benar maksud dari kampanye teknologi hijau. "Saya peduli terhadap lingkungan. Saya selalu berusaha agar lingkungan di sekitar saya lebih hijau dan cantik. Entah itu di lingkungan pribadi saya, maupun di tempat kerja. Apalagi tema itu sudah nyaris terlambat diperjuangkan. Bukan hanya teknologi saja yang harus ramah lingkungan, tapi keseluruhan.“ Bukan hanya kurangnya informasi yang mudah dicerna oleh pengunjung atau masyarakat, namun juga hal penting lain di luar ramah lingkungan yang menjadi kritik dalam kampanye teknologi hijau, yaitu kondisi pekerja pabrik yang banyak tersebar di negara berkembang. Weltwirtschschaft, Ökologi dan Entwicklung WEED dalam pernyataannya mencermati kurangnya perlindungan kesehatan bagi pekerja maupun masyarakat di sekitar pabrik dan upah rendah atau lembur tak dibayar seperti yang terjadi di Cina, Meksiko maupun Filipina. Di pojokan pameran, stand Green IT menawarkan solusi. Mereka membuka diri bagi penyebaran informasi, gagasan yang didiskusikan bersama, serta penyerapan ide segar dari konsumen. Mario Tobias dari Perhimpunan Bisnis Informatika, Telekomunikasi dan Media Jerman, BITKOM, menjelaskan: "Green IT harus memenuhi tiga komponen. Pertama didisain sebagai produk ekologi. Artinya bila perusahaan ingin membuat produk, misalnya komputer, maka harus memikirkan apakah produknya ramah lingkungan, berapa sumber daya yang digunakan, berbahayakan material yang digunakan, apakah produknya tidak berisik, dan lain-lain. Begitulah contoh disain ekologinya. Itu langkah pertama. Kedua, penggunaanya apakah si pemakai punya perhatian dengan penghematan energi, misalnya mau memakai warga hitam saja ketimbang warna-warni di layar komputer. Terakhir adalah harus bisa didaur ulang.“ Salah satu perusahaan yang mengklaim dapat mendaur ulang sebaik mungkin produknya adalah UNI-V dari Cina, yang mengeluarkan note book UNI V100, dengan harga hanya sekitar 2,3 juta Rupiah saja. Sub note book, dengan menggunakan sistem Linux dan procesor ARM itu berkapasitas 2 GB dengan 258 MB RAM, menjanjikan tidak ada bahaya racun meski bila dibakar. Soal harga yang relatif lebih tinggi bagi produk ramah lingkungan menurut Tobias akan jauh lebih murah ketika digunakan. "Bila Anda punya kantor dan Anda mau beli monitor misalnya. Dalam satu setengah tahun uang yang anda keluarkan untuk membeli produk, sudah kembali karena hemat energi atau hemat dalam membayar listrik. Ini bagus buat dua hal, bagus untuk ekologi, karena emisi CO2 yang terbuang berkurang, dan baik buat dompet Anda, karena murah dalam membayar listrik.“Gema Green IT, mengundang pertanyaan besar, produk mana yang paling ramah lingkungan? Evaluasi dilakukan oleh organisasi pecinta lingkungan Greenpeace. Namun tak satupun yang mencapai nilai maksimum. Kriterianya wajib memenuhi standar pemakaian material yang tidak berbahaya, menghasilkan produk hemat energi, dan jika perlu bisa didaur ulang. Rata-rata produk yang diuji hanya memenuhi satu atau dua kriteria tersebut. Note book Sony VAIO TZ11, telefon genggam Sony Ericsson T650i dan PDA Sony Ericsson P1i, yang memperoleh nilai terbanyak pun hanya mencapai setengah kriteria sebagai produk teknologi hijau. Jadi masih butuh waktu untuk menemukan pemenang dalam perlombaan teknologi hijau. Namun paling tidak usaha telah mulai dilakukan.













