1. Isi
  2. Navigasi
  3. Artikel lainnya
  4. Metanavigasi
  5. Cari
  6. Pilih satu dari 30 bahasa


 

Pers Internasional | 13.11.2009

Janji Medvedev Sekedar Harapan

 

Presiden Rusia Dmitri Medvedev dalam pidato nasionalnya melancarkan kritik tajam terhadap praktek korupsi dan mismanajemen. Ia menuntut modernisasi dan demokratisasi. Bisakah Medvedev menggulirkan reformasi?

 

Harian ekonomi Rusia Wedemosti yang terbit di Moskow menulis:

Dmitri Medvedev hanya mengulangi penilaian negatifnya tentang situasi di Rusia yang sudah sering ia kemukakan: keterbelakangan, ketergantungan dari ekspor energi dan korupsi. Tapi sama sekali tidak jelas, bagaimana modernisasi bisa dimulai. Untuk menjawab berbagai amsalah modernisasi teknis, beberapa kondisi umum harus berubah. Harus ada reformasi politik, reformasi pada masyarakat dan lembaga-lembaga ekonomi. Usul-usul yang disampaikan Medvedev hanya berupa perubahan kosmetik. Dari situ tidak akan muncul dobrakan yang diharapkan. Prakarsa-prakarsa kecil ini mungkin bisa memperbaiki sesuatu di sana sini. Namun pengaruhnya secara keseluruhan tidak akan terasa.

Harian Polandia Rzeczpospolita mengomentari pidato Medvedev sebagai berikut:

Yang tidak jelas adalah, seberapa serius kita harus menanggapi janji demokratisasi ini. Dikatakan, demokratisasi diinginkan, namun jangan sampai mendatangkan kekacauan dan mengganggu stabilitas. Tapi pihak oposisi di luar parlemen menangkap suatu janji. Sedikitnya sekali dalam setahun, lembaga-lembaga pemerintah diminta untuk mendalami berbagai masalah yang dikemukakan oposisi. Kita tahu, Rusia yang modern tidak akan mengubah politik luar negerinya. Ia tetap tidak bisa menerima peran NATO sebagai jaminan keamanan negara-negara barat. Untuk mewujudkan politik luar negeri yang pragmatis, Rusia tetap tidak segan menggunakan langkah keras. Bagi Polandia dan negara tetangga lainnya, ini bukan alasan bergembira.

Harian Perancis Le Figaro berkomentar:

Jelas terlihat ada kritik terbuka terhadap politik yang dijalankan Vladimir Putin selama dua kali masa jabatannya sebagai presiden. Tapi terlalu jauh untuk menyimpulkan, bahwa kedua orang yang berbagi kekuasaan itu tidak bersepakat dalam masalah strategis seperti ini. Ada terlalu banyak kepentingan politik dan ekonomi di lingkaran kekuasaan. Tak mungkin Putin dan Mevedev tidak berjalan bergandengan. Jadi yang mungkin adalah, Perdana Menteri Putin membiarkan Presiden Medvedev muncul ke panggung, agar ia sendiri luput dari kritik, jika reformasi tidak berjalan baik. Modernisasi tidak mungkin berhasil tanpa teknologi dan uang dari luar negeri. Masih banyak yang harus dilakukan untuk memperbaiki iklim investasi. Tapi orientasinya positif.

Hal lain yang jadi sorotan adalah kunjungan Obama ke Asia. Harian Italia La Stampa berkomentar:

Dari Gedung Putih, pandangan Obama sering melayang ke Barat, melampaui Kalifornia, ke arah Asia. Tdak hanya karena kepentingan ekonomi, melainkan juga kepentingan budaya. Obama adalah presiden pertama Amerika Serikat yang punya akar di Hawai dan di Indonesia. Banyak kalangan khawatir, ia makin lama makin meninggalkan Eropa. Tapi saat ini, Washington punya banyak masalah di Timur Jauh. Mulai dari ketegangan dengan Jepang soal pangkalan militer di Okinawa, sampai perundingan rumit dengan Korea Selatan tentang perdagangan.

HP/ZER/dpa

 
 

Feedback »Kirim »Cetak »

Topik berita lainnya

 
Bookmark artikel